(+62) 800 0000 0000

Senin - Sabtu 08.00 - 17.00

Geramat, Bengkulu

Margono Djojohadikusumo dan Koperasi: Perintis yang Terlupakan?

Share This Post

Desa Geramat – Margono Djojohadikusumo adalah tokoh penting dalam sejarah ekonomi Indonesia. Namanya jarang muncul dalam diskusi koperasi, meski jejaknya tercatat sejak era kolonial. Artikel ini mengulas pemikiran Margono Djojohadikusumo tentang koperasi berdasarkan fakta sejarah yang terdokumentasi.

Margono Djojohadikusumo dan Awal Koperasi Pribumi

Margono Djojohadikusumo berkiprah langsung dalam urusan koperasi sejak masa Hindia Belanda. Ia menjabat sebagai ketua Jawatan Koperasi, lembaga pemerintah kolonial yang sebelumnya bernama Jawatan Perkreditan Rakyat. Posisi ini membuat Margono berhadapan langsung dengan koperasi-koperasi rakyat pribumi.

Dalam kurun 1930 hingga 1940, Margono memimpin pendataan koperasi rakyat. Hingga 1939, tercatat resmi 574 koperasi dengan 52.055 anggota. Data ini menunjukkan koperasi telah menjadi alat ekonomi rakyat sebelum Indonesia merdeka.

Buku “10 Tahun Koperasi” dan Gagasan Margono

Pengalaman Margono dituangkan dalam buku 10 Tahun Koperasi yang terbit pada 1941 melalui Balai Pustaka. Buku ini membahas sejarah koperasi hingga 1930, aturan hukum koperasi kolonial, tata cara pendirian koperasi, serta jenis koperasi di Hindia Belanda.

Dalam kesimpulannya, Margono menegaskan koperasi sebagai sarana penting bagi perekonomian rakyat. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut buku ini sebagai karya monumental yang merekam satu dekade perjalanan koperasi di Indonesia.

Margono Djojohadikusumo vs Mohammad Hatta

Fadli Zon pernah menyatakan Margono lebih tepat disebut Bapak Koperasi, sementara Mohammad Hatta sebagai Bapak Ekonomi Kerakyatan. Pernyataan ini memicu perdebatan.

Praktisi koperasi Firdaus Putra menilai peran Margono lebih sebagai pejabat birokrasi kolonial. Ia melihat Margono menjalankan fungsi pengawasan dan pendataan, bukan pengembangan konsep koperasi secara menyeluruh.

Sejarawan Iip D. Yahya memiliki pandangan serupa. Menurutnya, Margono berperan sebagai pelaksana kebijakan pemerintah kolonial. Penggerak koperasi dari bawah justru dilakukan tokoh seperti Niti Soemantri, ketua pertama Dekopin.

Catatan Tambahan Peran Margono

Dalam biografi Margono karya Jimmy S. Harianto dan H.M.U. Kurniadi, peran Margono di koperasi hanya dibahas singkat. Sumbernya berasal dari buku Jepang tahun 1944 yang mencatat Margono sebagai ketua Gabungan Pusat Koperasi Indonesia pada 1936.

Margono juga membantu usaha batik pribumi di Surakarta dan Yogyakarta. Ia terlibat dalam pendirian Gabungan Koperasi Batik Indonesia dan menerapkan gagasan ekonomi kerakyatan yang didorong dr. Soetomo.

Warisan Ekonomi Margono Djojohadikusumo

Setelah kemerdekaan, Margono menjadi tokoh kunci pendirian BNI 46 pada 5 Juli 1946. Ia menjadi direktur pertama dan berperan dalam pencetakan Oeang Republik Indonesia sebagai simbol kedaulatan ekonomi.

Di tengah peran besar itu, Margono kehilangan dua putranya dalam Pertempuran Lengkong. Kisah ini ia abadikan dalam memoar Kenang-Kenangan dari Tiga Zaman, yang merekam tiga fase sejarah Indonesia.

Margono wafat pada 25 Juli 1978 di usia 84 tahun. Ia sempat menyaksikan putranya, Sumitro Djojohadikusumo, menjadi menteri. Cucu Margono, Prabowo Subianto, saat itu baru memulai karier militernya.

Margono Djojohadikusumo bukan penggagas ide koperasi dari bawah seperti Mohammad Hatta. Namun perannya sebagai perintis birokrasi koperasi dan pejuang ekonomi tidak dapat diabaikan. Dalam konteks ekonomi kolonial, koperasi menjadi alat perlawanan rakyat, dan Margono berada di jantung proses itu.

Sejarah koperasi Indonesia menempatkan Margono sebagai figur penting. Bukan simbol, tetapi pelaku nyata di masa krusial pembentukan ekonomi nasional.

Kopdes Merah Putih Jadi Penggerak Ekonomi Desa Nasional

Desa Geramat - Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes...

Kaligrafi Tembaga Kabupaten Kaur, Hiasan Masjid yang Mewah dan Tahan Lama

Desa Geramat - Kaligrafi tembaga Kabupaten Kaur mulai menarik...

Wisata Alam Kabupaten Kaur: 9 Surga Pantai dan Danau yang Masih Alami

Desa Geramat - Wisata alam Kabupaten Kaur menawarkan pantai...

Industri Kreatif Dorong UMKM Lokal Naik Kelas

Desa Geramat - Industri kreatif menjadi motor baru pertumbuhan...